PPUPIK ANEMON LAUT ORNAMEN.COM

Program Pengembangan Usaha dan Produk Intelektual Kampus
Menjual anemon laut hasil budidaya dan produk-produk laut lainnya secara online

Anemon Laut Stichodactyla gigantea

by admin Posted on Oct 03, 2017 - 8:30


Oleh:  Muhammad Ahsin Rifa’i

 

1. Taksonomi

            Menurut Nybakken (1992), anemon laut merupakan salah satu jenis karang dari filum Cnidaria.  Karang dan anemon laut adalah anggota taksonomi kelas yang sama yaitu Anthozoa.  Perbedaannya adalah karang menghasilkan kerangka luar dari kalsium karbonat, sedangkan anemon tidak. 

            Anemon laut jenis Stichodactyla gigantea dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Hickman, 1967; Webb et.al., 1978; dan Dunn, 1981):

Kingdom : Animalia

Filum : Coelenterata

Kelas : Anthozoa

Sub kelas : Zoantharia

Ordo : Actinaria

Famili : Stichodactylidae ANDRES 1883

Genus : Stichodactyla BRANDT, 1835

Spesies :  Stichodactyla gigantea (FORSSKAL, 1775)   

            Sedangkan Fautin (2004), mengklasifikasikan anemon laut jenis Stichodactyla gigantea adalah sebagai berikut  :

Class : Anthozoa

Subclass : Hexacorallia

Order : Actiniaria

Suborder : Nyantheae Carlgren, 1899

Tribe : Thenaria Carlgren, 1899
Subtribe : Endomyaria Stephenson, 1921
Family :  Stichodactylidae Andres, 1883
Genus : Stichodactyla Brandt, 1835
Species : Stichodactyla gigantea (Forsskål, 1775)

Selanjutnya dinyatakan anemon Stichodactyla gigantea memiliki nama umum yaitu Giant Carpet Anemone (Fenner. 1998) dan Gigantic Sea Anemone (Fautin and Allen, 1997).  (Gambar 1 dan 2).  Nama lain yang digunakan sebelumnya adalah Discosoma giganteum (Gohar, 1948, Schlichter 1968 dalam Fautin and Allen, 1997), Stoichactis kenti (Mariscal,

Gambar 1.  Anemon Stichodactyla gigantea (FORSSKAL, 1775). (Sumber: http://www.edge-of-reef.com. Diakses : 31 Oktober 2006)

Gambar 2.  Anemon Stichodactyla gigantea (FORSSKAL, 1775) (Sumber : Rifa’i dkk., 2005)

1969, 1970, 1972; Allen, 1972, 1973, 1978; Uchida et al., 1975 dalam Fautin and Allen, 1997).

2. Deskripsi

Menurut Fautin and Allen (1997), anemon laut adalah binatang in-vertebrata atau binatang  yang  tidak  memiliki  tulang  belakang.  Anemon mempunyai beberapa filum yang dikenal dengan nama Cnidaria atau Coelenterata.  Nama Cnidaria didasarkan adanya cnidae atau nematocyst yang dihasilkan dari filum ini.  Sedangkan nama Coelenterara didasarkan adanya hollow gut yang ditemukan dalam rongga tubuh dan berhubungan dengan stomach, paru-paru, intestin, sistem sirkulasi, dan lain-lain.  Pada bagian atas rongga tubuh ditemukan mulut yang dapat dilalui air, makanan, dan gamet.  Mulut ini dikelilingi oleh tentakel yang dapat mengeluarkan nematocyst.  Tentakel aktif menangkap makanan dan memasukkannya ke dalam mulut.  Selain itu juga digunakan untuk pertahanan.  Sedangkan menurut Nurachmad dan Sumadiyo (1992), anemon laut adalah binatang yang seluruh tubuhnya lunak dan mempunyai tentakel di bagian atas, serta mengeras bagian bawah yang dipergunakan sebagai alat untuk menempel pada benda lain.  Jika dipandang sangat menarik karena beraneka warna dengan lambaian tentakel yang selalu mengikuti gerakan air.

Anemon tidak mempunyai skeleton pada seluruh tubuhnya.  Ane-mon laut memiliki berbagai bentuk, ukuran dan warna.  Tubuhnya radial semetrik, mempunyai tubuh columnar dengan satu lubang membuka be-rupa mulut yang dikelilingi oleh tentakel.  Tentakel dapat melindungi ane-mon dan dapat menangkap makanannya.  Anemon laut biasanya memiliki ukuran diameter tubuh 1- 4 inchi (2,5 -10 cm), tetapi beberapa anemon ada juga yang dapat tumbuh mencapai diameter tubuh 6 kaki (1,8 m). 

Menurut Dunn (1981), anatomi tubuh anemon Stichodactyla gigan-tea terdiri atas empat bagian yaitu dasar (base), badan (column), lingkar mulut (oral disc), dan tentakel (tentacle).  Dasar (base) tubuh Sticho-dactyla gigantea berbentuk kaku, tidak beraturan tergantung pada lapisan (substrat) yang ditempatinya.  Lebarnya kadangkala sedikit lebih kecil dari bagian badannya, tetapi garis tengah pada umumnya lebih kecil dari garis tengah lingkar mulut.  Binatang ini biasanya memiliki warna dasar yang sama dengan badan walaupun dengan corak yang lebih muda.  Badan (column) Stichodactyla gigantea umumnya pendek (kurang lebih setengah dari garis tengah lingkar mulut), tetapi dapat memanjang tergantung kedalaman obyek tempat menempel lingkar kakinya (pedal disc).  Badan binatang ini agak tembus cahaya dengan warna bervariasi dari coklat kekuningan atau kemerahmudaan sampai coklat keoranyean melalui hijau muda sampai biru kehijauan dan hijau kelabu.  Badan bagian bawah halus dan memanjang secara vertikal dari dasar (base) untuk jarak yang pendek, terletak tepat atau tegak lurus dari badan bagian atas yang terang dengan corak atau warna yang lebih gelap (karena zooxhantellae endodermal) dan dilengkapi dengan kutil-kutil (verrucae).  Susunan verru-cae kebanyakan endocoelic 8 – 10 berukuran lebih panjang (susunan ketiga hingga keempat dari bagian atas paling panjang) dengan sejumlah susunan lebih pendek diantaranya.  Diameter 1 – 2 mm pada hewan muda hingga 4 – 5 mm pada hewan besar.  Warna verrucae biru hingga ungu hingga maroon, biasanya kontras dengan warna tubuh, namun sering kurang nyata pada hewan muda yang memiliki warna yang pucat.  Debris tidak terikat atau berpegang dengan verrucae.   Lingkar mulut (oral disc) Stichodactyla gigantea bergelombang, terutama pada individu-individu yang lebih besar dengan garis tengah 500 mm pada saat hidup.  Sebagian besar barisan tentakel hanya menempati setengah atau kurang dari bagian luar lingkar mulut.  Warna sama dengan bagian bawah atau tentakel, di daerah sekitar mulut berwarna hijau, kuning maupun keoranyean dan dapat memiliki warna yang sama dengan badannya.  Tentakel (tentacle), seluruh tentakel Stichodactyla gigantea termasuk kelompok rongga luarnya  (exocoelic) memiliki bentuk  sedikit lonjong dari pangkal sampai bagian ujung yang tumpul.  Pada umumnya terdapat   barisan tentakel dengan lima puluh atau lebih tentakel.  Letak tentakel yang mendekati mulut tersusun dalam barisan tunggal dan ganda semakin ke tepi.  Barisan rongga dalam (endocoelic) yang terpendek memiliki tiga sampai lima buah tentakel.  Pada saat binatang ini masih hidup tentakelnya bersifat sangat lekat.

Menurut Shimek (2006), secara umum anemon laut adalah polip yang merupakan  hewan berkantung yang mempunyai tentakel dan mulut pada salah satu ujungnya dan pada ujung seberangnya mempunyai pedal disc yang secara khusus digunakan untuk melengket (Gambar 3).  Otot dan daerah datar ini mempunyai kelenjar epidermis yang menghasilkan mukus bergetah yang membantunya untuk menemukan substrat.   Dinding tubuh anemon terdiri tiga lapisan.  Lapisan pertama dinamakan mesoglea yaitu lapisan tengah non selluler yang terletak di antara dua lapisan jari-ngan.  Lapisan  jaringan terluar disebut epidermis sedangkan yang bagian dalam disebut gastrodermis.  Kebanyakan anemon memiliki mesoglea te-bal berserat dan bentuknya tidak rata dan mempunyai lembaran material protein yang tahan lama sehingga gastrodermis dan epidermis dapat berhubungan.  Bagian dalam dari kantong adalah usus (isi perut) yang dikenal dengan sebutan rongga coelenteron atau rongga gastrovascular.   Bentuk  tubuh  anemon  adalah  sederhana,  meskipun  demikian secara signifikan dapat diubah oleh seleksi alam. Mulut tidak panjang mempunyai

Gambar 3.  Anatomi anemon laut (Sumber : Shimek, 2006. http://www.reefland.com.  Diakses: 31 Oktober 2006)

lubang (hole) terbuka hingga bagian dalam.  Dekat sisi dalam mulut bagian bawah, secara internal berhubungan dengan tubular yang disebut pharynx.  Selanjutnya, lembaran jaringan tipis yaitu septa berhubungan dengan dinding tubuh bagian luar mengarah ke bagian tengah dari rong-ga.  Beberapa diantaranya berhubungan dengan pharynx.  Septa-septa ini membagi usus ke dalam beberapa compartement besar pada bagian atasnya tetapi semuanya terbuka terhadap lubang pusat pada bagian bawah.  Jika anemon dibelah melintang paralel dengan substrat, maka pada bagian dalam akan nampak terbagi-bagi lagi dalam bagian-bagian sempit yang disebut bagian “pie slice-shaped”  Septa-septa ini juga ber-hubungan dengan tentakel-tentakel.  Dinding septa berhubungan dengan sisi-sisi dasar dari tentakel.  Konsekuensinya, jumlah tentakel secara nor-mal seimbang dengan jumlah septa.  Berkaitan dengan bagian dalam tu-buh, sisi tengah septa dibawah phariyx, sering memanjang ke luar seperti benang berupa untaian-untaian internal yang disebut filamen.  Filamen ini mengandung nematocyst yang digunakan untuk membunuh mangsanya.   

Boolootian and Stiles (1976), membagi kelas Anthozoa menjadi lima bagian yaitu tentakel, sifonoglyfa, lingkar mulut, badan, dan lingkar kaki.

Menurut Fautin and Allen (1997), pola warna anemon laut menjadi sangat penting untuk identifikasi di lapangan, tetapi warna itu sendiri memiliki variasi yang sangat tinggi pada kebanyakan actinian sehingga memiliki nilai diagnosa yang kecil.  Simbiosis alga dapat mempengaruhi warna anemon yang akan menghasilkan warna coklat keemasan atau merangsang binatang memproduksi pigmen yang melindungi alga dari sinar matahari yang berlebihan. 

3. Habitat dan Sebaran

Anemon laut hidup di dasar laut menempel pada benda keras, pecahan karang, pasir.  Ada pula yang sedikit membenamkan bagian tubuhnya ke dalam dasar tanah yang agak berlumpur.  Umumnya anemon dijumpai pada daerah terumbu karang yang kurang subur dan dangkal, di goa atau di lereng terumbu.  Namun ada juga yang hidup di tepian padang lamun (Dunn, 1981; Nuracmad dan Sumadiyo, 1992; Nurachmad, 1993).

            Menurut Fautin and Allen (1997), anggota kelas Anthozoa (juga meliputi karang batu dan karang lunak), anemon laut hidup menempel pada objek-objek keras, umumnya seperti dasar laut atau tertutup sedi-men.  Anemon laut hidup melekat pada objek-objek yang keras di perairan laut, biasanya di dasar perairan, bebatuan, atau terumbu karang.  Suharsono (1982) menyatakan bahwa, penyebaran anemon laut sangat luas mulai  perairan daerah sub tropis sampai daerah tropis.  Di alam bebas binatang ini ditemukan hidup secara terpisah dan bergerombol membentuk koloni.  Anemon yang hidup terpisah termasuk dalam bangsa atau ordo Actinaria, sedang yang hidup bergerombol termasuk dalam bangsa atau ordo Zoanthidea.  Menurut Dunn (1981), jangkauan Stichodactyla gigantea sangat luas.  Jenis anemon ini dilaporkan berasal dari Laut Merah dan dikenal mulai dari Selatan Samudera Hindia yaitu di Zanzibar sampai dengan tepi Barat Pasifik Basin.  Verwey (1930) dan Dunn (1981) mengemukakan bahwa, habitat Stichodactyla gigantea adalah di daerah tenang dan berpasir seperti laguna-laguna karang dan tepian padang lamun.  Selanjutnya Dunn (1981) menyatakan, jenis anemon ini umumnya ditemukan pada perairan dangkal (kurang dari 1 m), dengan lingkar kaki terkubur beberapa sentimeter di bawah pasir dan lingkar mulutnya terlihat di permukaan.  Anemon jenis ini amat berlimpah di Teluk Jakarta di beberapa tempat dengan kepadatan yang cukup tinggi.  Pada daerah seluas 1 meter persegi dapat ditemukan empat individu Stichodactyla gigantea yang cukup besar.

4. Makanan dan Cara Makan

            Anemon laut tergolong binatang yang dapat memakan binatang apa saja yang hidup di laut, namun ia lebih bersifat karnivora.  Jenis makanan yang bisa disantap adalah moluska, krustasea, ikan, dan  berba-gai invertebrata lainnya (Barnes, 1963; Storer et.al., 1968; Nurachmad dan Sumadiyo, 1992; Nurachmad, 1993).  Sedangkan menurut Allen (1975), makanan anemon laut antara lain, detritus, feses, dan bahan organik.  Menurut Fautin dan Allen (1997), anemon menangkap dan mencerna mangsanya dengan nematocyst.  Ditemukan ikan kecil, bulu babi, berbagai krustasea (udang dan kepiting) dalam coelenteron anemon.  Meskipun energi berasal dari fotosintesis cukup untuk kehidupannya, anemon membutuhkan sulfur, nitrogen, unsur-unsur lainnya untuk tumbuh dan melakukan reproduksi.   Menurut Storer et.al. (1968), mangsa atau makanan ditangkap oleh tentakel dengan bantuan nematocyst yang dapat melumpuhkan mangsanya.  Ada pula beberapa obyek yang langsung terpegang oleh mulut.  Mulut dan kerongkongannya dapat membuka dengan lebar sesuai kebutuhannya.  Makanannya dicerna dalam ruang gastrovascular dengan bantuan enzim yang disekresikan kemudian diserap oleh gastrodermis.  Sisa-sisa makanan yang tidak dapat dicerna dibuang melalui mulutnya.

            Menurut Shimek (2006), anemon laut merupakan predator yang bergerak lambat.  Mereka menunggu hingga kontak dengan mangsanya.  Ada korelasi antara tipe atau tingkah laku mangsa dan morfologi predator.  Sebagai contoh, Entacmaea quadricolor memiliki tentakel yang relatif  besar pada bagian atasnya sehingga dapat menemukan mangsa yang berenang secara planktonik.  Faktor tambahan lainnya dalam makanan meliputi racun nematocyst yang digunakan untuk menangkap mangsa dan keperluan enzim untuk pencernaan. 

5. Reproduksi

Reproduksi anemon laut umumnya dilakukan baik secara seksual maupun aseksual. Menurut Barnes (1963), reproduksi aseksual ini dilakukan dengan cara memutuskan bagian kakinya, yaitu bagian dari lingkar kaki yang ditinggalkan pada saat binatang tersebut berpindah tempat.  Sedangkan menurut McConnaughey and Zottoli (1983), anemon melakukan reproduksi yang aneh tanpa perkelaminan, anemon laut merangkak secara perlahan ke arah yang berlawanan hingga tubuhnya terputus menjadi dua bagian.  Bagian tersebut kemudian membulat dan hidup menjadi anemon-anemon baru. Selanjutnya Dunn (1981) menyatakan bahwa, tiga jenis anemon laut dari famili Stichodactylidae melakukan reproduksi secara aseksual dengan pembelahan membujur (longitudinal) dan melintang (transversal).  Ketiga jenis anemon laut ini adalah Stichodactyla helianthus, Entacmaea quadricolor (longitudinal) dan Heteractis maginifica (transversal).  Selain itu, anemon laut selalu dapat menyempurnakan bentuknya kembali meskipun kondisi alam mengalami kerusakan yang amat berat. 

            Anemon Stichodactyla gigantea dapat melakukan reproduksi baik

secara seksual maupun aseksual.  Cara yang umum dilakuan oleh anemon laut termasuk jenis ini adalah reproduksi aseksual (Barnes, 1963; Russel and Hunter, 1979; McConnaughey and Zottoli, 1983; Nybakken, 1992).  Menurut Barnes (1963), reproduksi aseksual ini dilakukan dengan cara memutuskan bagian kakinya, yaitu bagian dari lingkar kaki yang ditinggalkan pada saat binatang tersebut berpindah tempat.  Bagian kaki yang tertinggal akan muncul gelembung-gelembung (semacam kuncup) yang selanjutnya memisahkan diri dan pada akhirnya beregenerasi menjadi anemon-anemon kecil.

            Boolootian and Stiles (1976) menyatakan bahwa, reproduksi sek-sual terjadi di dalam air, dimana sperma dan telur dari anemon laut keluar melalui mulut dan bersatu membentuk zigot yang akan berkembang menjadi larva.  Larva ini akan berenang-renang dan mencari makan  sendiri yang pada akhirnya melekat dan tumbuh menjadi anemon dewasa.

            Anemon laut dapat juga bersifat hermaprodit (Barnes, 1963; dan Boolootian and Stiles, 1976).  Menurut Barnes (1963), telur dan sperma dari jenis yang hermaprodit dihasilkan dari gonad-gonad yang terletak dalam gastroderm dalam waktu yang berbeda.  Peristiwa ini dikenal sebagai protandri dan umum terjadi pada invertebrata.

            Shimeks (2006) menyatakan bahwa, seksualitas anemon laut umumnya terpisah.  Pola reproduksi anemon adalah kedua seks memijah di dalam laut dan terjadi fertilisasi.  Beberapa hari kemudian setelah fertilisasi, larva berenang pelan yang disebut planula.  Larva kemudian akan melakukan metamorfosis menjadi anemon-anemon laut kecil dan tinggal dalam lingkungan yang bentik.  Reproduksi aseksual umumnya ditemukan dalam beberapa anemon seperti bulb tipped anemone, Entacmaea quadricolor

 

Referensi:

Rifa.i. M.A.  1998.  Reproduksi Vegetatif Anemon Laut Stichodactyla gigantea (FORSSKAL. 1775) dan Upaya Rehabilitasi pada Berbagai Habitat Terumbu Karang Non Produktif.  Tesis Pascasarjana Universitas Hasanuddin Ujung Pandang. 

Rifa’i, M.A., P. Ansyari. H. Kudsiah. 2003-2005. Rekayasa Fragmentasi Anemon Laut Jenis Stichodactyla gigantea untuk Restocking dan Rehabilitasi Kawasan Terumbu Karang non Produktif. Laporan Penelitian Hibah Bersaing XI  DP2M Dikti Depdikbud. Tahun Pertama-Ketiga. Tahun 2003-2005.

Rifa’i, M.A., dan H. Kudsiah.  2007.  Reproduksi Aseksual Anemon Laut  Stichodactyla gigantea (Forsskal. 1775) dengan Teknik Fragmentasi dan Habitat Penumbuhan Berbeda.  J. Sains & Teknologi. Vol. 7. No. 2. Agustus 2007: 65 – 76.

Rifa’i, M.A., P. Ansyari. dan H. Kudsiah.  2008a.  Kajian Densitas Gamet dan Densitas Zooxanthellae Anemon Laut Stichodactyla Gigantea (Forsskal. 1775) Hasil Reproduksi Aseksual dengan Teknik Fragmentasi.  J. Ecosystem. Vol 8. No 2. 2008: 423 - 430   

Rifa.i, M.A., A. Niartiningsih. dan H. Kudsiah.  2008b.  Indeks Mitotik Simbion Alga Zooxanthellae pada Anemon Laut Stichodactyla Gigantea (Forsskal. 1775) Hasil Reproduksi Aseksual.  Prosiding Seminar Nasional Tahunan VI Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan Tahun 2009. 

Rifa’i, M.A., Hamdani. dan H. Kudsiah.  2008c. Biodiversitas dan Indeks Mitotik Anemon Laut Hasil Rekayasa Reproduksi Aseksual. Laporan Hibah Penelitian Insentif Riset Dasar - RISTEK KNRT.

Rifa’i, M.A. 2011. Sintasan Benih Anemon Laut Stichodactyla gigantea (Forsskal. 1775) Hasil Reproduksi Aseksual Berdasarkan Waktu Pemindahan ke Perairan Alami Pasca Fragmentasi Longitudinal. Jurnal Seri Hayati. 11(2): 93 – 102. ISSN 0215 – 174 X

Rifa’i, M.A. 2012. Keragaman Genetik Simbion Alga Zooxanthellae pada Anemon Laut Stichodactyla gigantea (Forsskal. 1775) Hasil Reproduksi Aseksual. Jurnal Bioteknologi. 11(2): 49-56. ISSN: 0216-6887 EISSN: 2301-8658

Rifa’i, M.A., dan H. Kudsiah. 2012. Kelimpahan-Keragaman Ikan-Ikan Karang Pra dan Pasca Restocking Anemon Hasil Reproduksi Aseksual pada Kawasan Terumbu Karang non Produktif. Prosiding Seminar Nasional Tahunan IX Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan Tahun 2012 ISBN 978-602-9221-14-5 (jil.2)

Rifa’i and Jusoff. 2013. Mitotic Index of Algae Symbion Zooxanthellae from Sea Anemone from Asexual Reproduction. World Applied Sciences Journal: 112-118. 2013. ISSN 1818-4952                                                                                                                                                                                                                                                                   

Rifa’i, M.A., A. Tuwo. Budimawan. A. Niartiningsih.  2013a. Densitas Simbion Alga Zooxanthelae pada Anemon Laut Stichodactyla gigantea (Forsskal. 1775) Alam dan Hasil Reproduksi Aseksual. Jurnal Natur Indonesia. Volume 15. Nomor 1. Februari 2013. Halaman 15 – 32. ISSN 1410-9379

Rifa’i, M.A., Fatmawati, dan H. Kudsiah. 2013b. Rekayasa Taman Anemon untuk Perbaikan Emergensi Ekosistem Terumbu Karang dan Penguatan Ekonomi Masyarakat Pesisir. Laporan Hibah Penelitian Strategis Nasional DP2M Dikti Kemdikbud. Tahun Pertama. Tahun 2013.

Rifa’i, M.A., Fatmawati, dan H. Kudsiah. 2014. Rekayasa Taman Anemon untuk Perbaikan Emergensi Ekosistem Terumbu Karang dan Penguatan Ekonomi Masyarakat Pesisir. Laporan Hibah Penelitian Strategis Nasional DP2M Dikti Kemdikbud. Tahun Kedua. Tahun 2014

Rifa’i, M.A., Fatmawati, dan H. Kudsiah. 2015. Rekayasa Taman Anemon untuk Perbaikan Emergensi Ekosistem Terumbu Karang dan Penguatan Ekonomi Masyarakat Pesisir. Laporan Hibah Penelitian Strategis Nasional DP2M Dikti Kemdikbud. Tahun Ketiga. Tahun 2015

Rifa’i, M.A. 2016. The Abundance and Size of Giant Sea Anemones at different Depths in the waters of Teluk Tamiang Village. South Kalimantan. Indonesia. AACL Bioflux 9(3): 704-712.

Rifa’i. M.A., Fatmawati. F. Tony. H. Kudsiah. 2016. The Survival and Growth Rate of Three Species of Sea Anemones from Asexsual Reproduction in  Pulau Kerumputan and Pulau Karayaan. Indonesia. EEC 22(3): 1523-1531

 

Penulis:

Nama               : Muhammad Ahsin Rifa’i

Email               : m.ahsinrifai@unlam.ac.id