PPUPIK ANEMON LAUT ORNAMEN.COM

Program Pengembangan Usaha dan Produk Intelektual Kampus
Menjual anemon laut hasil budidaya dan produk-produk laut lainnya secara online

KEPITING, HALAL ATAU HARAM (Menurut Kajian Bioekologi Perikanan)

by admin Posted on Oct 03, 2017 - 7:02


Oleh: Muhammad Ahsin Rifa’i

Puluhan tahun yang lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa bahwa kepiting itu halal untuk di konsumsi.  Prangka saya bahwa fatwa itu sudah clear di masyarakat, namun prasangka tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar.  Hasil kunjungan saya ke beberapa daerah di Indonesia seperti di Sulsel, NTB, Maluku Utara, dan Kalsel sendiri masih menemukan sebagian masyarakat muslim yang masih meyakini bahwa kepiting itu hukumnya haram untuk dikonsumsi.  Pertanyaan saya mengapa fatwa MUI selama ini belum mampu mengubah keyakinan mereka? Asumsi saya adalah mungkin fatwa itu belum menjelaskan secara rinci bagaimana kepiting itu halal hukumnya jika ditelaah secara ilmiah antara lain dari sudut pandang taksonomis dan bioekologis perikanan.               

Sebagai pemerhati perikanan dan kelautan saya berkepentingan untuk menyampaikan hasil telaahan ini ke masyarakat.  Karena jika polemik halal haramnya kepiting ini berkepanjangan maka secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak terhadap upaya pengembangan budidaya kepiting sebagai komoditas unggulan perikanan pengganti sementara komoditas udang yang saat ini mengalami mati suri.  Di sisi lain kepiting memiliki rasa yang gurih dan enak, serta memiliki gizi yang tinggi.  Bagian tubuh yang dapat dimakan (edible portion) mengandung 65,72% protein, 7,5% mineral, dan 0,88% lemak.  Sedangkan kandungan gizi telur (gonad)-nya terdiri atas protein (88,55%), mineral (3,2%), dan lemak (8,16%).

Telaah Taksonomis dan Bioekologi Kepiting           

Secara taksonomis kepiting termasuk dalam kelas Krustasea.  Kelas krustasea memiliki bangsa atau ordo yang benama Dekapoda dengan ciri-ciri fisik mempunyai 10 buah kaki (5 pasang).  Beberapa biota laut yang termasuk dalam ordo Dekapoda ini adalah kepiting, lobster, udang, dan kumang.  Selanjutnya dalam kelompok kepiting (Brachyura) terdapat satu suku (famili) yang diberi nama Portunidae.  Ke dalam suku inilah kepiting bakau dan rajungan dikelompokkan.  Secara sistematik kepiting termasuk ke dalam Filum Arthopoda, Kelas Crustacea, Ordo Decapoda, Sub Ordo Brachyura, dan Famili Fortunidae.  Beberapa genus dari famili Fortunidae ini antara lain Scylla dan Fortunus.  Salah satu spesies dari genus Scylla adalah Serrata atau Scylla serrata yang dikenal dengan Kepiting Bakau, sedangkan dari genus Fortunus adalah Pelagicus atau Fortunus pelagicus yang dikenal dengan Rajungan

Secara bioekologi perikanan, kepiting dalam menjalankan kehidupannya beruaya dari perairan pantai ke perairan laut, kemudian induk dan anak-anaknya akan berusaha kembali kepantai, muara sungai, atau perairan berhutan bakau untuk berlindung, mencari makan atau membesarkan diri.  Kepiting khususnya kepiting bakau yang telah siap melakukan perkawinan akan memasuki perairan bakau atau tambak.  Setelah perkawinan berlangsung, secara perlahan-lahan kepiting betina akan beruaya ke tengah laut untuk melakukan pemijahan.  Sedangkan kepiting jantan akan tetap berada di perairan hutan mangrove, di tambak, atau di sela-sela pohon atau paling jauh di sekitar pantai pada bagian-bagian yang berlumpur yang memiliki makanan berlimpah. 

Jenis kepiting yang mampu bertahan lama hidup di luar air hanya kepiting jenis Scylla serrata yang dikenal dengan kepiting bakau.  Itupun jika terlalu lama kekeringan akan mengalami kematian.  Hal ini dapat dibuktikan dengan kebiasaan penjual kepiting bakau yang selalu membasahi tubuh kepiting dengan air agar tidak sepat mati.  Jenis kepiting laut lainnya seperti rajungan dari marga-marga Portunus, Charybdis, Thalamita, dan Podophathalamus kurang mampu hidup tanpa air sehingga akan cepat mati bila tempat kering.

Berdasarkan hasil telaah taksonomis dan bioekologi perikanan, klasifikasi kepiting bukan famili amphibia, melainkan krustasea.  Bukti ilmiah bahwa kepiting bukan amphibia adalah jika dilihat dari sistem pernafasannya.  Hewan amphibia pada saat fase hidup di air, sistem bernafasannya menggunakan insang dan pada saat fase hidup di darat menggunakan paru-paru.  Artinya hewan ini memiliki dua sistem dan alat pernafasan.  Sedangkan hewan krustasea dalam hal ini adalah kepiting selalu bernafas menggunakan insang baik pada saat bentuk larva hingga dewasa.  Dengan demikian kepiting bukanlah golongan amphibia melainkan sepenuhnya golongan krustasea.  Sebagai binatang yang selalu memerlukan air, kepiting tidak dapat melepaskan diri air. 

Kepiting : Halal atau Haram?

Apakah kepiting halal atau haram untuk dikonsumsi bagi ummat Islam? Tulisan ini tidak memiliki kewenangan untuk menjawab pertanyaan tersebut.  Fatwa halal atau haram adalah otoritas para ulama terutama para ahli fiqih Islam.  Jika MUI puluhan tahun yang lalu telah memfatwakan bahwa kepiting adalah halal untuk dikonsumsi, mungkin ada baiknya tulisan ini menjadi bahan referensi untuk menguatkan fatwa tersebut.  Bagi yang masih meragukanya kehalalan kepiting, semoga fakta ilmiah ini mampu meyakinkan bahwa kepiting merupakan hewan asli hidup di air sejak lahir sampai besar.  Jika diantara kita masih meyakini bahwa kepiting itu hidup di dua alam adalah sangat keliru.  Secara visual memang kepiting dapat hidup di darat dalam waktu relatif lama namun kemampuan itu adalah kodrat dirinya yang mampu menyimpan air dalam tubuhnya.  Meskipun demikian kita harus menghormati jika masih ada diantara kita yang meyakini bahwa kepiting itu haram dikonsumsi. 

 

Data Penulis

Nama             : Muhammad Ahsin Rifa’i

Email              : m.ahsinrifai@unlam.ac.id