PPUPIK ANEMON LAUT ORNAMEN.COM

Program Pengembangan Usaha dan Produk Intelektual Kampus
Menjual anemon laut hasil budidaya dan produk-produk laut lainnya secara online

Anemon Laut: Komoditas Potensial yang Terabaikan

by admin Posted on Oct 03, 2017 - 6:54


Oleh: Muhammad Ahsin Rifa’i

Anemon laut merupakan salah satu jenis karang dari filum Cnidaria.  Karang dan anemon laut adalah anggota taksonomi kelas yang sama, yaitu Anthozoa.  Perbedaan utama adalah karang menghasilkan kerangka luar dari kalsium karbonat, sedangkan anemon tidak.  Lebih dari 1.000 spesies anemon laut ditemukan di perairan pantai, perairan dangkal (terumbu karang), dan perairan laut dalam di seluruh dunia. 

Anemon laut adalah binatang invertebrata yang  tidak  memiliki  tulang  belakang atau tidak memiliki skeleton pada seluruh tubuhnya.  Anemon merupakan hewan predator yang tampak seperti bunga, memiliki berbagai bentuk, ukuran, dan warna.  Tubuhnya radial semetrik, columnar dan memiliki satu lubang mulut yang dikelilingi oleh tentakel.  Tentakel dapat melindungi tubuhnya terhadap serangan predator lain dan dapat pula digunakan untuk menangkap makanannya.  Anemon laut biasanya memiliki ukuran diameter tubuh 1-4 inchi (2,5-10 cm), tetapi beberapa anemon ada juga yang dapat tumbuh mencapai diameter tubuh 6 kaki (1,8 m). 

Penyebaran anemon laut sangat luas mulai perairan sub tropis hingga perairan tropis.  Di Sulawesi Selatan, anemon tersebar di Taman Laut Takabonerate dan pulau-pulau kecil seperti Barrang Lompo dan sekitarnya, Salemo, Kapoposang, Bauruang, dan pulau-pulau lainnya.  Di alam bebas anemon ditemukan hidup secara soliter dan bergerombol membentuk koloni.  Anemon yang hidup soliter termasuk dalam bangsa atau ordo Actinaria, sedang yang hidup bergerombol termasuk dalam bangsa atau ordo Zoanthidea.  Anemon hidup di dasar laut menempel pada benda keras, pecahan karang, pasir.  Ada pula yang sedikit membenamkan bagian tubuhnya ke dasar tanah yang agak berlumpur.  Anemon umumnya dijumpai pada daerah terumbu karang yang kurang subur dan dangkal, di goa atau di lereng terumbu.  Namun ada juga yang hidup di tepian padang lamun.

A. Nilai dan Fungsi Anemon

Anemon laut merupakan salah satu komoditi perairan yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis.  Biota ini sangat populer sebagai bahan makanan laut (Sea Food), terutama di luar negeri antara lain Perancis, Jepang, Korea, dan Kepulauan Pasifik bagian Timur.  Nilai ekonomis penting lainnya adalah dapat dijadikan sebagai hewan pengisi akuarium yang sangat indah dan menarik karena memiliki bentuk tubuh yang meyerupai bunga beraneka warna.  Beberapa jenis anemon laut seperti Actinaria equima, Anemonia sulcata, Bunodactis verrocosa, Redianthus malu, dan Stoichactis keuti telah di ekspor ke Singapura, Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada sebagai anemon hias untuk akuarium laut.  Selain itu anemon memiliki sel-sel penyengat (nematokis) yang mengandung bioaktif potensial berupa toxin-toxin yang sangat berguna bagi dunia farmasi, seperti polypeptide neurotoxin (Sh I), ShK, AsKS, BgK, HmK, AeK, AsKC 1-3, BDS-I, BDS-II, APETx1, dan Gigantoxin II and Gigantoxin III dari anemon Sticodaytyla gigantea, dll.

Anemon laut juga memiliki peranan dalam ekosistem terumbu karang.  Tidak kurang 51 spesies ikan karang melakukan simbiosis fakultatif dengan anemon laut, khususnya di perairan tropis.   Antara kedua jenis binatang ini telah terjalin simbiose yang bersifat mutualisme.  Anemon laut dan ikan Amphiprion dapat hidup dan tumbuh dengan baik bila hidup bersama-sama, tetapi bila sendiri-sendiri, maka pertumbuhan dan kelangsungan hidup salah satu atau keduanya akan terganggu.   Ditemukan 10 spesies anemon yang dapat menjadi host bagi ikan-ikan giru yaitu Adhesive anemone, (Cryptodendrum adhaesivum), Bulb-tipped anemone, (Entacmaea quadricolor), Beaded anemone (Heteractis aurora), Sebae anemone (Heteractis crispa), Ritteri anemone (Heteractis magnifica), Malu anemone (Heteractis malu), Long-tentacled anemone (Macrodactyla doreensis), Gigantic carpet anemone (Stichodactyla gigantea), Haddoni atau green carpet anemone (Stichodactyla haddoni), dan Merten’s carpet anemone (Stichodactyla mertensii). 

Seperti  halnya  karang  dan  beberapa  biota  bentik  lainnya, pada sel-sel

endodermis anemon laut berlimpah sel-sel zooxanthellae sebagai simbion intraselluler.  Zooxanthellae adalah sel tunggal berupa alga dinoflagellata (coklat keemasan) yang hidup bersimbiose dalam sel-sel beberapa binatang laut seperti kebanyakan terumbu yang membentuk karang di daerah tropis dan anemon laut, beberapa hydroid, dan semua giant clam.  Hasil penelitian menunjukkan, zooxanthellae mampu memberikan kontribusi terhadap fitness inang-inangnya dan produktivitas primer perairan disekitarnya.  Ada kecenderungan zooxanthellae menjadi faktor-faktor pengendali dalam kelimpahan dan distribusi anemon laut.  Bahkan zooxanthellae pada anemon laut (Anemonia sulcata) mampu mentransfer 60% dari total karbon yang difiksasi melalui proses fotosintesis. 

            Hasil penelitian penulis pada tahun 1998, 2003 - 2005 menunjukkan, kehadiran anemon laut mampu meningkatkan keragaman biota pada ekosistem terumbu karang.  Anemon laut mampu mengisi space-space habitat terumbu karang yang selama ini dikatagorikan sebagai non produktif seperti karang mati, karang hancur, dan pasir.  Dengan demikian, kehadiran anemon pada ekosistem terumbu karang dapat menjadi biota pelengkap bukan pesaing space bagi kehidupan terumbu karang.  Dalam fase kehidupannya anemon laut sangat membutuhkan habitat-habitat tersebut untuk menempelkan basal disk atau kaki jalannya.  Anemon laut tidak akan pernah menempelkan basal disknya pada terumbu karang yang masih hidup.

Dengan demikian, secara ekologis kehadiran anemon laut dapat meningkatkan kinerja efisiensi energi dan mampu mengundang kehadiran ikan-ikan karang terutama ikan giru (Amphiprion) sehingga menimbulkan semakin beragamnya struktur tropik pada ekosistem terumbu karang.  Kehadiran ikan-ikan karang ini berdampak positip terhadap penambahan bahan organik yang berasal dari fecesnya, dan dengan adanya kemampuan bakteri di terumbu maka bahan organik tersebut dapat segera dimanfaatkan oleh biota-biota yang berasosiasi dengan terumbu karang, termasuk zooxanthellae dan alga lainnya. 

B. Kondisi dan Upaya Pengelolaan

Perkembangan jumlah penduduk yang sangat cepat serta berkembang-nya ilmu pengetahuan dan teknologi, pemanfaatan anemon laut terus meningkat terutama untuk memenuhi permintaan pasar ikan hias domestik dan ekspor.  Sebagai contoh, di Sulawesi Selatan menurut Balai Besar Karantina Ikan Sulawesi Selatan, data lalu lintas domestik dan ekspor anemon laut pada tahun 2002 hanya mencapai 49.655 ekor dan pada tahun 2006 ini telah terjadi peningkatan yang sangat signifikan mencapai 84.534 ekor.  Kondisi serupa tentunya terjadi pula di propinsi lainnya di Indonesia, maupun di luar negeri.

Mengingat potensi, nilai, dan fungsi anemon laut yang dimilikinya, serta kondisi populasinya saat ini yang terus terdegradasi, maka upaya restocking dan budidaya harus segera dilakukan.  Upaya ini membutuhkan benih anemon dalam kuantitas dan kualitas yang memadai.  Benih yang dibutuhkan tidak mungkin lagi mengandalkan benih alami, melainkan benih dari hasil pembenihan konvensional.  Hasil ujicoba selama 10 tahun terakhir ini, penulis telah mengembangbiakkan anemon laut jenis Stichodactyla gigantea secara vegetatif (aseksual) dengan teknik fragmentasi tubuh.  Saat ini, benih-benih yang dihasilkan telah direstocking di alam, khususnya di perairan kawasan terumbu karang non produktif.  Hasil uji coba menunjukkan selain mampu menambah populasi anemon di alam juga mampu mengurangi habitat atau kawasan terumbu karang yang rusak dengan hadirnya populasi baru anemon laut.  Populasi baru anemon ini ternyata mampu meningkatkan nilai dan fungsi ekosistem terumbu karang sebagai biota pioner dan upaya perbaikan emergensi sambil menunggu lambatnya pertumbuhan karang yang hanya mencapai 3 – 5 cm per tahun.   Di samping itu, benih yang dihasilkan dapat menjadi alternatif baru usaha budidaya laut komersial untuk memasok pasar ikan/anemon hias dalam negeri dan luar negeri.   Teknologi reproduksi secara aseksual ini sangat memungkinkan dikembangkan pada spesies-spesies komersial lainnya yang diminati pasar nasional dan internasional. 

 
Penulis:

Muhammad Ahsin Rifa’i

Email: m.ahsin@unlam.ac.id

 

Rerensi 

Rifa.i. M.A.  1998.  Reproduksi Vegetatif Anemon Laut Stichodactyla gigantea (FORSSKAL. 1775) dan Upaya Rehabilitasi pada Berbagai Habitat Terumbu Karang Non Produktif.  Tesis Pascasarjana Universitas Hasanuddin Ujung Pandang. 

Rifa’i, M.A., P. Ansyari. H. Kudsiah. 2003-2005. Rekayasa Fragmentasi Anemon Laut Jenis Stichodactyla gigantea untuk Restocking dan Rehabilitasi Kawasan Terumbu Karang non Produktif. Laporan Penelitian Hibah Bersaing XI  DP2M Dikti Depdikbud. Tahun Pertama-Ketiga. Tahun 2003-2005.

Rifa’i, M.A., dan H. Kudsiah.  2007.  Reproduksi Aseksual Anemon Laut  Stichodactyla gigantea (Forsskal. 1775) dengan Teknik Fragmentasi dan Habitat Penumbuhan Berbeda.  J. Sains & Teknologi. Vol. 7. No. 2. Agustus 2007: 65 – 76.

Rifa’i, M.A., P. Ansyari. dan H. Kudsiah.  2008a.  Kajian Densitas Gamet dan Densitas Zooxanthellae Anemon Laut Stichodactyla Gigantea (Forsskal. 1775) Hasil Reproduksi Aseksual dengan Teknik Fragmentasi.  J. Ecosystem. Vol 8. No 2. 2008: 423 - 430   

Rifa.i, M.A., A. Niartiningsih. dan H. Kudsiah.  2008b.  Indeks Mitotik Simbion Alga Zooxanthellae pada Anemon Laut Stichodactyla Gigantea (Forsskal. 1775) Hasil Reproduksi Aseksual.  Prosiding Seminar Nasional Tahunan VI Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan Tahun 2009. 

Rifa’i, M.A., Hamdani. dan H. Kudsiah.  2008c. Biodiversitas dan Indeks Mitotik Anemon Laut Hasil Rekayasa Reproduksi Aseksual. Laporan Hibah Penelitian Insentif Riset Dasar - RISTEK KNRT.

Rifa’i, M.A. 2011. Sintasan Benih Anemon Laut Stichodactyla gigantea (Forsskal. 1775) Hasil Reproduksi Aseksual Berdasarkan Waktu Pemindahan ke Perairan Alami Pasca Fragmentasi Longitudinal. Jurnal Seri Hayati. 11(2): 93 – 102. ISSN 0215 – 174 X

Rifa’i, M.A. 2012. Keragaman Genetik Simbion Alga Zooxanthellae pada Anemon Laut Stichodactyla gigantea (Forsskal. 1775) Hasil Reproduksi Aseksual. Jurnal Bioteknologi. 11(2): 49-56. ISSN: 0216-6887 EISSN: 2301-8658

Rifa’i, M.A., dan H. Kudsiah. 2012. Kelimpahan-Keragaman Ikan-Ikan Karang Pra dan Pasca Restocking Anemon Hasil Reproduksi Aseksual pada Kawasan Terumbu Karang non Produktif. Prosiding Seminar Nasional Tahunan IX Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan Tahun 2012 ISBN 978-602-9221-14-5 (jil.2)

Rifa’i and Jusoff. 2013. Mitotic Index of Algae Symbion Zooxanthellae from Sea Anemone from Asexual Reproduction. World Applied Sciences Journal: 112-118. 2013. ISSN 1818-4952                                                                                                                                                                                                                                                                   

Rifa’i, M.A., A. Tuwo. Budimawan. A. Niartiningsih.  2013a. Densitas Simbion Alga Zooxanthelae pada Anemon Laut Stichodactyla gigantea (Forsskal. 1775) Alam dan Hasil Reproduksi Aseksual. Jurnal Natur Indonesia. Volume 15. Nomor 1. Februari 2013. Halaman 15 – 32. ISSN 1410-9379

Rifa’i, M.A., Fatmawati, dan H. Kudsiah. 2013b. Rekayasa Taman Anemon untuk Perbaikan Emergensi Ekosistem Terumbu Karang dan Penguatan Ekonomi Masyarakat Pesisir. Laporan Hibah Penelitian Strategis Nasional DP2M Dikti Kemdikbud. Tahun Pertama. Tahun 2013.

Rifa’i, M.A., Fatmawati, dan H. Kudsiah. 2014. Rekayasa Taman Anemon untuk Perbaikan Emergensi Ekosistem Terumbu Karang dan Penguatan Ekonomi Masyarakat Pesisir. Laporan Hibah Penelitian Strategis Nasional DP2M Dikti Kemdikbud. Tahun Kedua. Tahun 2014

Rifa’i, M.A., Fatmawati, dan H. Kudsiah. 2015. Rekayasa Taman Anemon untuk Perbaikan Emergensi Ekosistem Terumbu Karang dan Penguatan Ekonomi Masyarakat Pesisir. Laporan Hibah Penelitian Strategis Nasional DP2M Dikti Kemdikbud. Tahun Ketiga. Tahun 2015

Rifa’i, M.A. 2016. The Abundance and Size of Giant Sea Anemones at different Depths in the waters of Teluk Tamiang Village. South Kalimantan. Indonesia. AACL Bioflux 9(3): 704-712.

Rifa’i. M.A., Fatmawati. F. Tony. H. Kudsiah. 2016. The Survival and Growth Rate of Three Species of Sea Anemones from Asexsual Reproduction in  Pulau Kerumputan and Pulau Karayaan. Indonesia. EEC 22(3): 1523-1531